BLOG Rolling Hills

5 Tempat Bersejarah yang Bisa Anda Kunjungi di Karawang

Tinggal di Karawang? Ini dia 5 Tempat Bersejarah yang Bisa Anda Kunjungi

Rolling-hills.id, KarawangKarawang tidak hanya dikenal sebagai sebuah kawasan industri yang sibuk, bukan pula hanya dikenal sebagai wilayah penyumbang dana investasi terbesar di Indonesia. Karawang juga dikenal sebagai kawasan yang menyimpan berbagai situs bersejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi.

Memiliki rumah di Karawang akan lebih seru jika Anda juga mengetahui cerita berbagai tempat bersejarah di kawasan ini. Selain itu, mengajak si buah hati untuk bertamasya ke tempat-tempat sejarah dan memperkenalkannya dengan kebudayaan asli Indonesia akan membuat si buah hati lebih menghargai latar belakangnya. Oleh karena itu, mengetahui tempat-tempat bersejarah di Karawang adalah wajib hukumnya jika Anda berniat untuk tinggal di kawasan ini.

Nah, Rolling Hills telah menghimpun 5 tempat bersejarah di Karawang yang bisa Anda kunjungi bersama keluarga.

Petilasan Jaka Tingkir

Petilasan Jaka Tingkir berada satu komplek dengan monumen Rawa Gede yang berlokasi di Balongsari Karawang. Di lokasi petilasan beberapa pohon besar tumbuh subur sehingga menimbulkan kesan alami dan asri. Petilasan Jaka Tingkir juga menjadi tempat wisata religi yang dikunjungi oleh banyak pejiarah dari berbagai kota di Indonesia.

Apa cerita di balik petilsan Jaka Tingkir ini? Konon pada jaman dahulu kala pada saat kampung Rawa Gede Karawang masih merupakan hutan belantara, Jaka Tingkir pernah mampir di salah satu tempat di Rawa Gede ini untuk melakukan Tapa Brata mendekatkan diri pada pencipta. Beliau duduk bersila di atas tanah tanpa ada pelindung diri apapun.

Joko Tingkir sendiri memiliki nama asli Sultan Hadiwijaya yang merupakan pendiri kerajaan Pajang yang bertahta pada tahun 1568-1986. Berdasarkan Babad Tanah Jawi, selepas wafatnya sultan Trenggana, takhta Kerajaan Demak jatuh ke tangan Sedo Lepen, saudara Trenggana. Sepeninggal Trenggana, Kerajaan Demak kemudian mengalami berbagai konflik dan perang saudara yang berakhir dengan kemenangan Jaka Tingkir. Setelah menguasai Kerajaan Demak, Sultan Hadiwijaya memindahkan Ibu Kota Demak ke daerah Pajang dan berakhirlah kesultanan demak dan sejarahnya yang panjang.

Bendungan Walahar

Bendungan Walahar terletak di Desa Walahar Kecamatan Ciampel Karawang. Bendungan ini telah digunakan sejak 30 Nivember 1925 dan dibangun pada masa penjajahan Belanda. Pembangunan bendungan Walahar ini sepenuhnya menggunakan tenaga kerja pribumi mulai dari mandor hingga buruh yang dikepalai oleh teknisi Bendungan yang langsung didatangkan dari Negeri Belanda. Bendungan yang membagi air Sunga Citarum ini difungsikan untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengairi area persawahan di Karawang seluas kurang lebih 87.507 hektar. Selain itu, bendungan ini juga digunakan sebagai penahan air ketika daerah Karawang bagian utara dilanda banjir musim hujan seiring dengan meluapnya air laut di pantai utara.

Bendungan Walahar adalah saksi dari bergesernya peradaban sungai khususnya di Karawang. Menurut berbagai catatan sejarah, Sungai Citarum merupakan jalur utama perdagangan dan transportasi karena jalur darat ketika dahulu belum berkembang. Adanya pelabuhan karawang yang kini menjadi Alun-alun Karawang serta peninggalan candi di Batujaya yang dibangun kerajaan Tarumanegara menjadi bukti pentingnya sungai Citarum sejak dulu.

Candi Jiwa

Ada sebuah catatan yang menarik tentang kawasan Karawang di mata sejarawan Indonesia. Selain sebagai kawasan Industri yang maju, Karawang juga memiliki 30 buah lokasi yang diduga merupakan bangunan Candi dari Masa Kerjaan Tarumanegara sampai Sunda. Jumlah ini belum tertandingi oleh daerah lain di Jawa Barat. Nah Candi Jiwa adalah salah satunya. Berada di situs Batujaya yang secara administratif terletak di dua wilayah desa yaitu  Desa Segaran di Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya di Kecamatan Pakisjaya. Luas situs ini sekitar 5 Kilo Meter Persegi  dan terletak di tengah-tengah daerah persawahan.

baca juga: 3 Tips Investasi di Kawasan Strategis Karawang

Candi Jiwa yang dikenal sebagai Unur Jiwa memiliki fasad bangunan berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter. Di bagian permukaan atas terdapat susuan bata yang melingkar dengan garis tengah sekitar 6 meter yang diduga merupakan susunan dari bentuk stupa. Berbagai cerita dapat ditemukan mengenai candi ini, salah satunya adalah penamaan candi jiwa oleh warga karena candi tersebut dipercaya memiliki jiwa sendiri. Hal ini karena warga sekitar sering melihat hewan yang melewati gundukan candi sebelum dipugar bisa mati tanpa sebab. Candi ini juga diduga dibuat pada abad ke 2 hingga abad ke 12. Candi ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara. Hingga saat ini, Candi Jiwa masih dipelajari oleh berbagai ahli arkeologi dan sejarah dari banyak universitas ternama di Indonesia.

Monumen Rawa Gede

Monumen Rawa Gede adalah sebuah taman makam pahlawan para pejuang kemerdekaan yang tewas pada tragedi pembantaian Rawa Gede. Monumen ini didirikan untuk mengenang peristiwa yang menewaskan 431 orang pejuang pada tahun 1947 oleh Belanda. Monumen ini terletak di di Desa Balongsari Kecamatan Rawamerta Kabupaten Karawang. Monumen ini didirikan untuk menjadi peringatan peristiwa berdarah tersebut.

Di Jawa Barat, sebelum Persetujuan Renville ditandatangi, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember terus memburu lascar-laskar pejuang kemerdekaan Indonesia dari pihak sipil dan Tentara Nasional Indonesia yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam operasinya tersebut, tantara Belanda mencari Kapten Lukas Kustario, Komandan Siliwangi yang kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi. Kapten Lukas berkali-kali berhasil menyerang patrol dan pos-pos militer Belanda yang menyebabkan amarah Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan. Pada 9 Desember 1947, tantara Belanda di bawah pimpinan seorang mayor mengepung Desa Rawa Gede dan menggeledah setiap rumah. Namun karena tidak menempukan sepucuk senjata-pun, tentara Belanda kemudian mengumpulkan seluruh penduduk desa di tanah lapang dan menginterogasi mereka untuk mengatakan tempat persembunyian pejuang kemerdekaan. Akan tetapi tidak ada satupun penduduk desa yang mengatakan tempat persembunyian pejuang kemerdekaan sehingga semua penduduk di tembak mati. Hal ini yang menjadi peristiwa berdarah di Rawa Gede dan diperingati oleh monument Rawa Gede.

Rumah Rengasdengklok

Rumah Rengasdengklok merupakan saksi sejarah atas diculiknya Soekarno dan Bung Hatta sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 16 Agustus 1945. Rumah yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan Kampung Bojong Rengasdengklok Karawang ini masih kokoh berdiri sebagai monument peringatan persitiwa tersebut. Rumah ini milik Djiauw Kie Siong yang merupakan salah satu pemuda yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa penculikan ini dilatarbelakangi oleh keinginan pemuda agar Soekarno Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu, Soekarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI atau Panitia Pelaksana Kemerdekaan Indonesia yang dibentuk oleh Jepang. Sementara, golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan penjajah. Selain itu, penculikan ini dilakukan untuk mengamankan Soekarno dan Hatta agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Setelah penculikan tersebut lahirlah perjanjian Rengasdengklok yang menyatakan bahwa Soekarno dan Hatta akan membacakan proklamai esoknya tanggal 17 Agustus 1945, maka lahirlah Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 melalui pembacaan Proklamasi di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta Pusat.

Demikianlah beberapa tempat bersejarah yang dapat dikunjungi bersama keluarga jika Anda tinggal di Karawang. Perumahan Rolling Hills Karawang adalah perumahan yang berlokasi di Karawang Berat tepat di pintu Tol KM 45 sehingga memiliki akses mudah ke berbagai tempat lainnya. Dengan tinggal di Rolling Hills Karawang, Anda bisa menikmati wisata sejarah yang dekat dengan hunian di Karawang. (ADR)

wa